Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Macam-Macam Transmisi Manual Dan Sistem Pengoperasiannya

1) Macam-macam transmisi manual dan sistem pengoperasiannya.
a) Transmisi Tiga Kecepatan dengan Slidingmesh
Transmisi ini telah digunakan pada kendaraan bermotor pada tahun 1930-an. Disini bukan akan mempelajari sejarah transmisi, namun model ini mempermudah untuk memahami prisip kerja sebuah transmisi, khususnya bagaimana proses pemindahan/transfer tenaga/momen dilakukan di dalam sebuah transmisi kendaraan bermotor.
Skema sederhana model transmisi ini, dapat dilihat pada gambar 9 berikut ini. Transmisi ini menggunakan roda gigi jenis spur gear dan dibuat dengan tiga poros yang terpisah, yaitu:
(1) Poros primer (4) (primary shaft) – yaitu poros yang menerima gerak putar pertama dari kopling.
(2) Poros perantara (2) (layshaft/countershaft) – yaitu tempat roda gigi counter ditempatkan.
(3) Poros utama (9) (mainshaft) – yaitu poros keluar dari transmisi, ke komponen sistem pemindah tenaga lainnya.

Gambar 6. Transmisi dengan Sliding-mesh

Poros primer yang dihubungkan dengan kopling, ujungnya dipasaang mati dengan roda gigi pinion sebagai pemutar tetap pada sistem transmisi, dan memberikan putaran pada kelompok roda gigi pada poros perantara. Sementara roda gigi pada poros utama dapat digeser-geser dan secara sendiri-sendiri dapat dihubungkan dengan roda gigi yang ada pada poros perantara yang dibuat berputar bersama. Penggeseran roda gigi pada poros utama, menggunakan pemindah gigi (8) diteruskan ke garpu selektor (6).
Pada posisi netral, semua roda gigi pada poros utama diposisikan tidak berhubungan dengan roda gigi yang ada pada poros perantara. Putaran dari poros primer diteruskan ke roda gigi pada poros perantara, namun tidak memutar roda gigi yang ada pada poros utama. Dengan kata lain, putaran dari poros primer tidak ditransfer ke poros utama/output transmisi.

Posisi Gigi Pertama, roda gigi A pada poros utama digeser hingga berhubungan dengan roda gigi B pada poros perantara lihat gambar 6 atau pada gambar 5 komponen nomor 11. Sementara roda gigi C dalam posisi netral. Pada posisi ini, berarti putaran dari roda gigi E pada poros primer, dipindahkan ke roda gigi F yang dipasang mati dengan roda gigi B atau roda gigi F memutar roda gigi B. Putaran dari roda gigi B dipindahkan ke Roda gigi A dan diteruskan keporos utama sebagai output transmisi. Karena roda gigi pemutar (driver) jumlah giginya lebih sedikit (yaitu Roda gigi E dan B) dari roda gigi yang diputar (driven), maka terjadi penurunan atau reduksi putaran bertingkat.

Gambar 7. Prinsip kerja transmisi tiga kecepatan

Perhitungan reduksi putaran dilakukan dengan membandingkan antara jumlah gigi pada roda gigi yang diputar dibandingkan dengan jumlah gigi pada roda gigi pemutar.
Sehingga rumus perbandingan giginya sebagai berikut: Perbandingan Gigi Pertama = F/E x A/B = 40/20 x 40/20 = 4.
Angka 4 ini menunjukan bahwa momen output pada transmisi akan 4 kali lebih besar dibandingkan momen pada poros inputnya, namun kecepatan/putarannya poros output transmisi ¼ dari putraran poros input. Artinya pada rpm mesin yang sama, kecepatan kendaraan lebih lambat. Hal ini diperlukan untuk mengangkat beban kendaraan yang lebih besar dengan tenaga yang tetap.

Posisi Gigi Kedua, pada kecepatan kedua roda gigi A di lepaskan dari roda gigi B, dan roda gigi C dihubungkan keroda gigi D. Sehingga aliran tenaga/putaran dari roda gigi E ke roda gigi F, roda gigi F berputar bersama dengan roda gigi D, selanjutnya roda gigi D memutar roda gigi C dan diteruskan ke poros output transmisi.
Perhitungan reduksi putaran sama dengan pada posisi gigi pertama di atas, yaitu:
Perbandingan Gigi Kedua = F/A x C/D = 40/20 x 30/30 = 2. Angka 2 ini menunjukan bahwa momen output pada transmisi akan 2 kali lebih besar dibandingkan momen pada poros inputnya, namun kecepatan/putarannya poros output transmisi ½ dari putraran poros input. Artinya pada rpm mesin yang sama, kecepatan kendaraan lebih cepat dua kali di-bandingkan posisi gigi pertama.
Posisi Gigi Ketiga atau tertinggi, pada posisi ini roda gigi A tetap bebas, roda gigi C dilepas dari roda gigi D dan digeser dihubungkan langsung melalui dog clutch dengan roda gigi
E. dengan demikian putaran poros input sama dengan putaran poros output atau 1 : 1.
Posisi Gigi Mundur/Reverse, diperlukan untuk menggerakan kendaraan mundur. Pada posisi ini roda gigi C digeser pada posisi netral dan roda gigi A digeser berhubungan dengan roda gigi H, putaran roda gigi E ke roda gigi F, selanjutnya roda gigi G yang berputar bersama dengan roda gigi F memutar roda gigi H, dan roda gigi H memutar roda gigi A dan diteruskan keporos output transmisi dengan putaran kebalikan dari poros input. Bila jumlah gigi G adalah 10, maka
Perbandingan Gigi Kedua = F/E x H/G x A/H = F/E x A/G
= 40/20 x 40/10 = 8.
Angka 8 ini menunjukan bahwa momen output pada transmisi akan 8 kali lebih besar dibandingkan momen pada poros inputnya, namun kecepatan/putarannya poros output transmisi 1/8 dari putraran poros input. Artinya pada rpm mesin yang sama, kecepatan kendaraan 1/8 lebih lambat.

b)    Unit Mekanisme Selektor
Seperti telah disinggung dalam uraian di atas, pada transmisi ada perlengkapan yang berfungsi untuk mengoperasi-onalkan transmisi, yaitu untuk merubah dari kecepatan yang satu kekecepatan yang lainnya. Didalam pemindahan roda gigi tidak boleh terjadi penyambungan dobel, misalnya saat roda gigi A berhubungan dengan roda gigi H atau B, maka roda gigi C juga berhubungan dengan roda gigi E atau D. Bila ini terjadi, maka akibatnya bisa fatal, kalau nggak terkunci atau tidak bisa berputar semua, mak bisa terjadi kerusakan pada salah satu pasang roda gigi.
Untuk mencegah terjadinya permasalahan tersebut, maka pada transmisi manual dilengkapi dengan perangkat mekanisme selektor, seperti terlihat pada gambar 7 berikut ini.

Gambar 8. Mekanisme Selektor

Garpu selektor (selector fork) pada gambar 7a, dipergunakan untuk menggeser roda gigi pada poros utama. Pada transmisi tiga kecepatan ditambah satu kecepatan mundur diperlukan dua buah garpu selektor. Bagian bawah garpu selektor berhubungan dengan roda gigi, sedangkan bagian atasnya berhubungan dengan handel transmisi yang digerakan dari ruang kemudi.

Setiap transmisi harus dilengkapi dengan pealatan (a) untuk menempatkan selektor untuk menghindari roda gigi ber-geraksendiri, dan (b) untuk mencegah dua gigi terhubung secara bersamaan. Jadi 7b berfungsi untuk menahan posisi roda gigi. Pada posisi ini bila salah satu roda gigi dipindahkan, maka yang lainnya dikunci oleh mekanisme sektor, seperti ter-lihat pada gambar 7c. Pennguncian melalui desain plunger yang dipasang antar batang selektor. Dengan demikian bila salah satu roda gigi akan dihubungkan, maka yang lainnya dikunci pada posisi netral. Bila roda gigi A dihubungkan maka roda gigi C dikunci pada posisi netral. Sehingga dengan mekanisme selektor kemungkinan terhubungnya dua roda gigi secara bersamaan dapat dicegah.

c)    Transmisi synchromesh 4 kecepatan
Konsep aliran tenaga/momen sama dengan yang dipergunakan pada transmisi tiga kecepatan di atas. Perbedaannya pada transmisi ini tidak menggunakan sistem sliding gear kecuali untuk reverse. Kondisi ini jadi memungkinkan dipergunakan bentuk gigi selain spur, baik yang bentuk helical atau yang dobel helical. Bentuk gigi ini di samping lebih kuat karena kontak antar giginya lebih luas, suaranya juga lebih halus.
Konstruksi transmisi ini, seluruh roda gigi pada poros utama (main shaft) terhubung bebas. Sedangkan sychromesh dengan poros utama terhubung sliding.

Gambar 9. Transmisi 4 kecepatan

Posisi netral, adalah posisi di mana kedua synchro-mesh tidak sedang menghubungkan roda gigi, dan roda gigi untuk    posisi        reverse        juga        tidak    terhubung.    Sehingga putaran dari poros primer dipindahkan keroda gigi yang ada pada poros perantara dan dipindahkan keroda gigi yang ada pada poros utama namun tidak memutar poros utama. Posisi gigi pertama. Synchromesh sebelah kanan di-geser kekanan, sehingga poros utama berhubungan dengan roda gigi D. Dengan demikian putaran mesin masuk ke kopling memutar poros primer dan memutar roda gigi A. Roda Gigi A    memutar    seluruh    roda    gigi    yang    ada    pada    poros perantara yaitu roda gigi B, C, E, K dan memutar roda gigi D, F, dan G. Karena yang terhubung melalui synchro-mesh adalah roda gigi D, maka putaran mesin dipindahkan ke poros utama melalui roda gigi D, sementara roda gigi F dan G berputar bebas.

Posisi gigi kedua. Synchromesh sebelah kanan digeser kekiri, sehingga poros utama berhubungan dengan roda gigi F. Dengan demikian putaran mesin masuk ke kopling memutar poros primer dan memutar roda gigi A. Roda Gigi A memutar seluruh roda gigi yang ada pada poros perantara yaitu roda gigi B, C, E, K dan memutar roda gigi D, F, dan G. Karena yang terhubung melalui synchromesh adalah roda gigi F, maka putaran mesin dipindahkan ke poros utama melalui roda gigi F, sementara roda gigi D dan G berputar bebas.
Posisi gigi ketiga. Synchromesh sebelah kiri digeser kekanan, sehingga poros utama berhubungan dengan roda gigi G. Dengan demikian putaran mesin masuk ke kopling memutar poros primer dan memutar roda gigi A. Roda Gigi A memutar seluruh roda gigi yang ada pada poros perantara yaitu roda gigi B, C, E, K dan memutar roda gigi D, F, dan G. Karena yang terhubung melalui synchro-mesh adalah roda gigi G, maka putaran mesin dipindahkan ke poros utama melalui roda gigi G, sementara roda gigi F dan G berputar bebas.
Posisi gigi keempat atau tertinggi. Synchromesh sebelah kiri digeser kekiri, sehingga poros utama berhubungan dengan roda gigi A. Dengan demikian putaran mesin masuk ke kopling memutar poros primer dan memutar roda gigi A. Roda Gigi A memutar seluruh roda gigi yang ada pada poros perantara yaitu roda gigi B, C, E, K dan memutar roda gigi D, F, dan G. Karena yang terhubung melalui synchro-mesh adalah roda gigi A, maka putaran mesin dipindahkan ke poros utama melalui roda gigi A, sementara roda gigi D, F dan G berputar bebas. Pada posisi ini semua gigi berputar bebas, karena putaran dari mesin ter-hubung langsung ke poros utama atau poros output transmisi.

Besarnya reduksi putaran cara menghitungnya sama dengan yang telah dijelaskan di atas, saat membahas transmisi sliding tiga kecepatan. Reduksi putaran ini sangat bervariasi antar kendaraan bermotor. Kapasitas beban maksimum kendaraan akan menjadi pertimbangan dalam memilih dan menentukan seberapa besar reduksi yang perlu dilakukan. Semakin berat kapasitas beban maksimum kendaraan, maka akan semakin besar reduksi putaran oleh transmisi.
Sehingga untuk kendaraan ringan berarti reduksi se-makin kecil, kadang untuk jenis sedan transmisinya dilangkapi dengan fasilitas ovedrive. Fasilitas ini memungkinkan putaran poros main shaft lebih besar dibandingkan dengan poros primer.

d). Mekanisme pengoperasian transmisi manual. Mekanisme    pengoperasian        transmisi,    berfungsi        untuk menyediakan        hubungan    antara    pengemudi    dengan bekerjanya transmisi. Sehingga mekanisme pengoperasian merupakan    sarana    untuk            mengendalikan    bekerjanya transmisi oleh pengemudi. Dengan demikian pengemudi dapat memilih gigi kecepatan yang dianggap sesuai dengan kondisi kecepatan dan beban kendaraan.
Konstruksi mekanisme pengoperasian ada tiga macam, yaitu sistem handel langsung, sistem handel pada kemudi, dan sistem menggunakan kabel baya elastis.
Sistem pemindah gigi handel langsung konstruksinya dapat dilihat pada gambar 13 berikut ini.

Gambar 10. Sistem Pemindah Langsung

Perhatikan gambar 13, Kalau tuas pemindah didorong penuh ke kiri oleh pengemudi, maka lengan selektor akan berada pada tuas garpu gigi 1 dan 2. pada posisi ini bila pengemudi mendorong kedepan , berarti lengen selektor menarik tuas garpu gigi 1 dan 2 dan membawa synchronmesh masuk ke posisi gigi 1. Sebaliknya bila menarik tuas pemindah kebelakang berarti mendorong  tuas garpu gigi 1 dan 2 dan membawa synchronmesh masuk ke posisi gigi 2.

Kalau tuas pemindah dilepas oleh pengemudi, maka tuas pemindah akan berada ditengah dan lengan selektor akan berada pada tuas garpu gigi 3 dan 4. pada posisi ini bila pengemudi mendorong kedepan , berarti lengen selektor menarik tuas garpu gigi 3 & 4 dan membawa synchronmesh masuk ke posisi gigi 3. Sebaliknya bila menarik tuas pemindah kebelakang berarti mendorong  tuas garpu gigi 3 & 4 dan membawa synchronmesh masuk ke posisi gigi 4.
Kalau tuas pemindah ditarik penuh ke kanan oleh pengemudi, maka lengan selektor akan berada pada tuas garpu mundur. pada posisi ini bila pengemudi menarik tuas pemindah kebelakang berarti mendorong tuas garpu mundur dan mem-bawa roda gigi masuk ke posisi gigi mundur.
Sistem pemindah gigi handel pada kemudi konstruksinya dapat dilihat pada gambar 14 berikut ini.
Gambar 11. Sistem pemindah gigi pada kemudi

Pada prisipnya pemindahan gigi di dalam transmisi sama dengan yang telah dijelaskan di atas. Sistem ini dipergunakan agar samping pengemudi ruangannya dapat dipergunakan untuk tempat duduk. Contoh pada  kendaraan adalah dipergunakan pada mobil Mitsubishi L300. Sementara untuk sistem menggunakan kabel baya elastis, seperti terlihat pada gambar 14 berikut ini dipergunakan pada kendaraan sedan dengan front wheel drive dan mesin me-lintang. Sistem ini lebih fleksibel dan mampu untuk menjangkau posisi transmisi yang sulit yang tidak memungkinkan digunakan kedua sistem sebelumnya.

Gambar 12. Sistem operasional Transmisi menggunakan kabel baja elastis

e)    Perawatan dan pemeliharaan Transmisi manual. Pemeliharaan dan perawatan transmisi manual, tidak terlalu rumit namun memerlukan ketelitian.
Pertama, memeriksa kebebasan gerak tuas pemindah. Kebebasan yang berlebihan disebabkan oleh keausan baut- baut penyambung, kerusakan bushing sambungan, atau penyetelan-nya. Secara visual/pengamatan langsung permasalahan ter-sebut dapat dilakukan.
Kedua, memeriksa pelumasan transmisi. Pelumasan pada transmisi sangat penting, mengingat transmisi terdiri dari banyak komponen yang saling bersentuhan satu dengan yang lainnya. Pelumasan diperlukan untuk menghindari terjadinya keausan sebagai akibat kontak langsung antar logam komponen transmisi. Transmisi pada umunya menggunakan minyak pelumas dengan viscositas SAE 80 atau SAE 90, namun demikian dalam menggunakan minyak pelumas untuk transmisi perlu melihat manual masing- masing produk kendaraan. Karena dimungkinkan terdapat perbedaannya. Setiap 1500 km perlu dikontrol mengenai jumlahnya.

Ketiga, pemeriksaan terhadap gejala-gejala kerusakan. Pemeriksaan ini terkait dengan kinerja transmisi, yaitu apakah transmisi dapat melakukan fungsinya dengan baik. Untuk melakukan pemeriksaan ini, berarti kendaraan harus dijalankan atau sering disebut dengan tes jalan.
Gejala-gejala    berikut    ini    menandakan    bahwa    terjadi kesalahan pada unit transmisi manual,
(1)    Gigi Loncat dari hubungan.
(2)    Gigi sulit Masuk.
(3)    Suara berisik yang tidak normal.
Dari gejala-gejala di atas dapat dianalisis faktor penyebab, dan proses perawatan atau perbaikannya. Hasil analisis seperti terlihat pada tabel berikut ini.

 

Posting Komentar untuk "Macam-Macam Transmisi Manual Dan Sistem Pengoperasiannya"